Genre : Romance, comedy
Kategori: Fiksi, novel terjemahan
ISBN: 978-602-98325-4-9
Tebal : 550 hlmn
Harga :
Terbit : Maret 2012
Sinopsis
Aku tinggal dengan idola paling terkenal se-Korea. Tapi… Aku adalah antifan-nya. H, salah satu bintang pemicu hallyu wave akan tinggal dengan antifan-nya dalam sebuah variety show.
Mr. H: Tentu saja aku bisa menangani antifan-ku. Aku ini pria yang penuh dengan kejutan
Ms. L: Sebagai antifan-nya, aku akan membuka semua rahasia busuknya. Lihat saja nanti
Begitu berita itu keluar, para fans Mr. H segera membentuk pertahanan untuk melindungi idolanya. Dan jika Ms. L melukai Mr. H barang sedikitpun maka mereka tidak segan2 untuk bertindak.
[KUIS] My Antifan Story
Adikku Antifan Terbesarku
Aku memegang 3 tiket konser
perdanaku. Haruskah aku mengirimkan ketiganya? Aku tahu kedua orangtuaku pasti
menantikan tiket ini, inilah gerbang impianku, hasil kerja kerasku dalam 2
tahun ini. Training setiap hari, pelatihan dance, vocal, attitude depan kamera,
dan pelajaran-pelajaran untuk menjadi bintang lainnya. Namun, bagaimana dengan
adikku, akankah dia mau menerimanya?
Sejak kecil kami sangat dekat. Geya
3 tahun lebih muda dariku. Dia anak yang manis dan selalu ceria. Aku sangat
menyayanginya. Kami punya impian, suatu saat aku akan menjadi seorang penyanyi
populer dan ia akan menjadi penulis novel terkenal.
“Kakak, kelak kau akan bernyanyi
dihadapan 1000 penonton, bukan...tapi 5000 penonton! Dan aku akan menjadi
penulis yang novelku dikenal seluruh negeri. Kita akan menggapai mimpi kita
bersama-sama. Benar kan, Kak?” Aku masih ingat Geya mengatakan ini padaku
dengan mata berbinar-binar saat aku menjemputnya sepulang sekolah. Senyum Geya
sungguh menular. Seakan-akan seluruh dunia adalah miliknya dan dia bisa
menggapai semua mimpinya. “Ya, kita akan mewujudkan impian kita bersama-sama,”
kataku sambil tersenyum yang tentu saja memperlebar senyum bahagia Geya.
Aku tahu Geya juga sangat
menyayangiku sebagai kakaknya. Dulu dia selalu mendukungku. Dia sering menunjukkan
hasil karya tulisnya padaku dan aku akan berlatih menyanyi dengan iringan
pianonya. Dia juga selalu mendukungku. Ketika SMA aku pernah akan ikut
kompetisi bernyanyi antar SMA, namun tiba-tiba saja tenggorokanku mengalami
radang sehingga aku tidak dapat bernyanyi dengan baik. Hari-hari sebelum
kompetisi aku menangis, mengurung diri dalam kamar. Aku takut teman-teman dan
guru yang mendukungku kecewa. Aku takut mereka membenciku. Saat itu Geya datang
ke kamarku sambil membawa gitarnya.
Aku ingat dia berkata,”Kakak, kau
ini bodoh! Apa gunanya mngurung diri dalam kamar, itu tidak akan menyembuhkan
tenggorokanmu. Cepat minumlah sari kencur buatan ibu. Lalu kita berlatih.”
Melihatku masih terisak didalam
bantal dia kembali berkata,”Kak, jangan pedulikan kata orang, aku akan selalu
menjadi fans terberatmu! Ayo tersenyumlah, FIGHTING!” Kalimat itu selalu
membuatku tersenyum jika mengingatnya setiap aku mengalami masa-masa yang berat.
Tapi itu sudah lama berlalu,
sekarang tidak sama lagi. Geya sekarang adalah Anti-fans ku. Aku tahu dia orang
pertama yang membuat anti-fan page untuku. Aku tahu dia yang menyebarkan berita
tentang kelakuan-kelakuan burukku. Aku
tahu dia yang kadang mengirimkan teror sms dan telepon kepadaku. Aku sangat
sedih apabila mengingat perbincangan telepon dengannya setahun yang lalu.
“Halo, ini sapa? Aku tidak
mengenalmu,” ucapnya pertama kali saat mengangkat telepon.
“Ge, ini Kak Naya. Jangan tutup
teleponnya,” sahutku buru-buru.
“Aku merasa sudah tidak punya
kakak.”
“Ge, jangan begitu. Aku selalu
meridukanmu. Aku menelepon untuk memintamu menemaniku rekaman untuk album perdanaku.
Aku membutuhkanmu, Ge. Aku butuh support darimu.”
“Untuk apa? Sekarang pasti banyak
orang mencintaimu. Kamu adalah idola besar, kamu terlalu sibuk sehingga mengacuhkanku. Kamu enggak akan membutuhkan orang sepertiku
lagi yang nggak bisa apa-apa.”
“Tapi ge....”
“Kakak, mulai sekarang aku adalah
anti-fans mu,” potong Geya tegas sebelum dia menutup teleponnya. Sejak itu dia
tidak pernah menghubungiku lagi, dia juga tidak pernah mengangkat telepon
dariku. Dia selalu pergi entah kemana ketika ia tahu aku akan pulang kerumah.
Mungkin ini memang salahku. Tiga
tahun lalu aku berangkat ke kota untuk melanjutkan kuliah. Tanpa sepengetahuan
keluargaku, aku ikut audisi bintang dan beruntungnya aku diterima. Aku selalu
sibuk berlatih dan kuliah. Hampir tidak ada waktu luang bagiku untuk berlibur.
Bahkan aku selalu tidak sempat menemui Geya ketika ia datang ke kota untuk
mengunjungiku. Aku kakak yang buruk, idola yang tidak layak menjadi panutan.
Aku terdiam masih menatap ketiga
tiket di tanganku. Dengan satu helaan napas panjang aku tahu inilah
keputusanku. Aku tidak boleh membenci orang yang membenciku. Aku tetap harus
berterima kasih karena mereka selalu memperhatikanku. Apalagi Geya adalah
adikku. Aku mengeluarkan kertas dan pena lalu mulai menulis.
“Geya, maafkan aku. Aku tahu kamu membenciku. Tapi harus kamu ingat aku
akan selalu menyayangimu. Meski kamu bilang kamu anti-fansku, tapi kamu selalu
menjadi idolaku yang aku cintai. Terima kasih atas perhatianmu yang selalu
menjadi semangatku. Datanglah ke konserku, aku menyiapkan sesuatu yang istemewa
untukmu. Fansmu, selamanya.”
Aku lipat surat kecil itu lalu
aku masukkan dalam amplop beserta 3 tiket konserku. Aku tidak tahu adikku akan
datang atau tidak, namun aku hanya bisa berharap. Seminggu lagi dalam konser
itu aku akan menyanyikan sebuah lagu istimewa untuk Geya. Lagu dari sebuah
puisi Geya. Aku harap dia suka dan mau membukakan pintu maaf untukku.
-dwp-


.jpg)



